Hong Kong 2011


Kesampaian juga saya pergi ke Hong Kong dan Macau, lebih tepatnya Desember 2011. Perjalanan tersebut sangat diluar rencana dan bisa dibilang kaya ketiban durian runtuh. Kenapa? Karena saya pun saat itu seperti tidak ada rencana akan ke Hong Kong di tahun itu, Alhamdulillah namanya rejeki emang tidak kemana.

Ini pertama kalinya saya naik Garuda Indonesia ke luar negeri. Maklumlah, selama ini saya hanya mampu beli budget airlines kalau mau travelling. Rasanya naik full inflight service enak banget, apalagi ke luar negeri dan memakan waktu 4.5 jam. Di pesawat hanya makan, tidur, nonton, makan, tidur, dengar musik. Yang paling menarik dan membedakan penerbangan domestik dan internasional adalah wine! Yeay, bisa nge-wine di pesawat dan tertidur pulas sampai tempat tujuan.

Empat jam setengah kemudian saya sampai di Hong Kong International Airport. Antrian imigrasinya panjang banget tetapi loketnya banyak, lebih banyak daripada di Changi. Ketika giliran saya, petugas imigrasi menanyakan beberapa hal kepada saya, mungkin mereka mengira saya TKI Ilegal karena ketika saya membuat paspor saya belum bekerja, saat itu masih magang. Setelah keluar imigrasi, saya langsung cari 711 untuk membeli sim card & octopus card di counter.

Keluar bandara saya langsung menuju ke hotel tempat menginap dengan menggunakan taxi, Imperial Hotel di Tsim Sha Tsui. Hotelnya sempit, kira-kira seukuran Ibis tapi lokasinya sangat strategis. Hari itu saya check in dan jalan-jalan sekitar Kowloon. Namanya perempuan nalurinya tidak bisa santai kalau lihat Sale. Tidak heran mengapa Hong Kong menjadi surga belanja orang Indonesia, bahkan melebihi Singapore. Saat itu lagi musim dingin, tidak ada salju tapi udara sangat dingin, baju-baju yang dipajang di etalase toko bertema winter. Secara tidak sengaja saya ke Mango di sana saya membeli coat seharga hanya HKD 169 (beberapa bulan kemudian saya ke Mango Grand Indonesia, coat tersebut New Arrival seharga Rp. 1.799.000). Kesampean juga pakai boots & coat :)

Layaknya turis yang perdana ke Hong Kong dan tidak backpacker kali ini, berikut adalah tempat-tempat yang saya kunjungi:

1. Madame Tussauds, The Peak
Museum ini terletak di The Peak Tower. Awalnya rencana saya adalah mau mencoba naik tram, tapi begitu melihat antriannya yang seperti di Dufan, maka saya langsung mengurungkan niat tersebut dan men-skip nya. Madame Tussauds Hong Kong adalah museum koleksi Madame Tussauds yang pertama kali saya datangi. Ekspetasi saya museum ini besar dan koleksinya banyak, tetapi begitu saya masuk ternyata tidak sebesar yang saya kira. Sekali kita pindah lantai, kita tidak bisa kembali ke lanjut sebelumnya. Jadi, puas-puaskan lah berfoto sebanyak mungkin dengan tokoh-tokoh yang ada. Untuk HTM bisa dicek langsung.

Foto dengan beberapa tokoh dunia

Finally, Johnny Deep! Semoga bisa kesampean foto sama aslinya. Amien!


2. Disneyland Hong Kong
Siapa yang tidak tau Disneyland Hong Kong? Sejak kecil saya sangat mengidolakan tokoh Minnie Mouse, kebayang betapa senangnya saya kesampaian ke istana Disney. HTM nya lumayan mahal buat saya sekitar hampir Rp. 500.000/orang, wahananya lebih cocok untuk anak-anak, masih jauh lebih menantang di Dufan. Saya hanya mencoba 3 wahana, itupun setelah seharian mengantri. Da wahana baru, Toy Story Land, ketika saya mau mencoba tiba-tiba mengalami gangguan dan mereka membatalkannya. Padahal saat itu sudah antri 45 menit!

Disneyland Caste

Fireworks Party

Giant Christmast Tree

Wahana Baru, Toy Story Land


3. Ocean Park
Theme Park ini jauh lebih luas dan wahananya jauh lebih banyak daripada Disneyland Hong Kong dan HTM nya lebih murah. Lokasinya cukup jauh dari Kowloon dan tidak ada MTR, bisa dijangkau dengan bis atau taxi. Wahana yang saya coba pertama kali adalah cable car. Jujur, saya sangat phobia dengan ketinggian (acrophobia), tetapi untuk membuktikan bahwa saya cukup berani dan harus melawan rasa tersebut, saya memberanikan diri. Awalnya cable car ini saya kira seperti cable car di Taman Mini Indonesia Indah, ternyata saya salah! Lintasannya lebih jauh dan naik turun, saya pucat sekali dan cuaca serta angin saat itu juga sangat dingin. Turun dari cable car saya langsung masuk angin. Dasar orang Indonesia :D

Selain wahana-wahana yang memacu adrenalin, di sana juga ada panda dan giant aquarium (seperti Sea World). Sayangnya, ketika saya kesana tiga ekor panda yang ada terlihat lesu dan bosan, mereka hanya tidur. 


Ocean Park


Cable Car at Ocean Park. I'm an Acrophobia

Panda

Giant Aquarium



4. Victoria Harbour
Tidak afdhal kalo ke Hong Kong tapi tidak mengunjungi Victoria Harbour. Tempat ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari Tsim Sha Tsui. Malam hari lampu-lampu berwarna warni menghiasi kota Hong Kong. Ini salah satu daya tarik Hong Kong malam hari. 


Victoria Harbour malam hari

5. Ladies Market, Mongkok
Mendengar namanya pasti tidak asing lagi. Ladies Market terletak di Mongkok dan menjadi pusat oleh-oleh bagi orang orang Indonesia pada umumnya. Tidak heran ketika datang kesini para penjual tidak asing dengan orang Indonesia, sama seperti ketika ke Bugis di Singapore. Saya membeli beberapa items umum untuk oleh-oleh seperti kaos, magnet kulkas dan gantungan kunci. Tidak banyak yang saya beli di sini karena sudah sangat lelah saat itu. Tetapi saya membeli casing hand phone, screen guard dan 1 buah koper. Haha.. Tidak heran mengapa orang Indonesia pasti membeli koper baru kalau ke Hong Kong. Screen guard dan casing handphone di sini murah sekali. Kalau di Jakarta harga screen guard untuk smart phone berkisar Rp. 50K-150K, di sana hanya HKD 10-30! Begitu juga dengan casing. Pilihannya pun banyak.


Stall Pedagang Kaki Lima di Ladies Market

Suasana Ladies Market

6. Victoria Park, Cuseway Bay
Minggu pagi di Victoria Park. Judul film itu membuat saya penasaran dengan suasana tersebut, ya, saya membuktikannya sendiri. Saya janjian dengan saudara saya yang bekerja di sana sebagai 'devisa negara', kebetulan ia mendapat jatah libur di hari Minggu saat itu. Senang sekali rasanya bisa bertemu saudara dekat di negeri orang. Ia dan teman satu agent-nya tidak keberaratan saya minta tolong untuk diantar ke Victoria Park. Mereka menyebutnya 'taman di Causeway Bay'. Ketika mulai masuk ke stasiun MTR di TST suasana sudah berubah tidak seperti di Hong Kong. Yap, seperti di Pulau Jawa! Beraneka ragam, gaya dan penampilan para 'pahlawan devisa negara' tersebut membuat saya tercengang. Ada yang masih polos seperti berusia 15 tahunan, menggunakan jilbab panjang seperti anak Rohis, mbak-mbak banget, ibu-ibu, hingga lines (lesbian). Mereka benar-benar membuat saya bilang WOW! Suasana MTR pun sudah seperti kereta antar kota di Pulau Jawa, dari yang mengobrol berbahasa Jawa halus sampai bahasa Jawa ngapak. Sesampainya di Victoria Park saya merasa seperti di Monas. Ini adalah temat terbesar mereka untuk bersosialisasi sesama TKI. Tidak heran, saudara saya pun bertemu dengan banyak teman-temannya di sana. Oiya, disana juga ada yang menjual sim card & pulsa u tuk telepon ke Indonesia, madu, obat-obatan herbal hingga snack khas Indonesia seperti Jajanan Pasar. Yang membuat saya miris adalah banyak sekali TKI di sana yang lesbian. Oh My.. 

Berhubung saat itu sedang winter, mereka tidak kalah modis dengan orang lokal setempat loh. Mereka bergaya dengan boots, leging, jacket bulu-bulu. Kapan lagi mereka bisa berpakaian seperti itu? Bahkan untuk orang Jakarta pun tidak mungkin bisa bergaya seperti itu di Jakarta, kan? 

Saya menyadari betapa banyaknya mereka, pantaslah kalau mereka disebut sebagai Pahlawan Devisa Negara. Ini baru yang di Hong Kong, bagaimana dengan yang di Timur Tengah?

Komentar

Postingan Populer