Serba serbi

Absen beberapa bulan nge-blog (males) ternyata bikin kangen juga. Sebenernya sih udah banyak banget nih unek-unek dan cerita di kepala, tapi entah kenapa beberapa bulan ini sangat super sibuk. Sekarang saya sudah 8 bulan lebih tinggal di Ubud-the perfect place to live- dan enggak terasa waktu berlari begitu cepatnya. Belum setahun, tapi sudah banyak kejadian-kejadian yang saya alami di sini. Mulai dari bahagia-sebahagianya sampai jatuh dalam keadaan terpuruk. Tapi semua itu ada hikmahnya kok, dan itu membuat saya (semakin) kuat.

Keadaan berubah sejak kedua orang teman datang dan mengisi kehidupan saya. Kami bertiga yg ternyata sama-sama dari Jakarta dan melarikan diri dari ibukota yang dihuni lebih dari 16juta jiwa pada pagi-malam hari, memiliki pemikiran yang sama tentang Jakarta. Yap, Bali adalah tempat yang perfect untuk hidup, dan Ubud pada akhirnya. Kami bertiga sama-sama tidak tahu banyak tentang Ubud pada awalnya, hanya sekedar iseng dan ternyata Alhamdulillah dipertemukan disini. Bridges. "Where worlds meet". Itulah slogan tempat kami mengais penghasilan. Dan slogan itu benar apa adanya.

Tiwi, Kezia, Deddy. Kami bertiga memiliki cerita masing-masing. Cerita percintaan dan kehidupan lainnya. Awalnya kami sangat menikmati kehidupan malam di sini. Bukan berarti kami pergi ke club atau bar, melainkan berkumpul di rumah (di Jl. Bisma) salah satu coursurfer Ubud (kami adalah anggota aktif www.couchsurfing.com). Pulang kerja, balik ke kost hanya untuk mandi dan ganti baju lalu ke rumah Bisma, dan sampai larut, bahkan sampai pagi jam 5 kami baru balik ke kost masing-masing. Dan pagi harinya jam 9 kami harus sudah di kantor. Begitu terus setiap hari. Tak jarang pula kami overtime sampai jam 9, tapi tetap siklus seperti itu. Alhasil, manager kami sadar karena kami selalu terlihat lelah di kantor. Sekitar 2.5 bulan bertahan dengan keadaan itu sampai akhirnya SADAR.

Drama queen does exist! Diluar kami bertiga, dia ada. Dia yang selama ini kami pikir angel, ternyata seorang munafik. Beberapa orang bilang untuk berhati-hati dengan dia, tapi tidak kami indahkan. Semua kedok berhasil terlihat sedikit demi sedikit. Dimulai ketika dia mulai dating dengan Nico (chef ganteng di Bridges yang adalah teman baik saya), hingga dua minggu lalu datang ke kost kami dan melabrak kami habis-habisan dengan bahasa Inggerisnyah yang cas cus itu. Helloooo.. we are Indonesians, and we're still in Indonesian.

Dia yang awalnya sperti kakak kami, ternyata seorang pembual dan menganggap kalau kami adalah double faces, and nothing in Ubud! Hanya bisa tertawa dalam hati dan mendoakan yang baik, Allah tidak pernah tidur. Dan saya tidak takut dengan ancaman-ancaman yang dia lontarkan. Toh dia juga bukan orang asli sini. Kita semua pendatang. Saya tidak pernah takut tidak memiliki teman seperti yang dia ucapkan. Justru dia yang akan menyesal karena telah menghina kami bertiga. Dan selain kami bertiga, masih ada orang-orang yang tidak suka dengan arogan nya dia. 

She's a trully drama queen! 
She told to everybody that she was pregnant. Twins. 
And then, the baby was miscarriage. 
We didn't believe since the beginning about her pregnant. 
Because if she was really pregnant, why she drank beers, wines, and smoke the cigarettes??
She just wants Nic's money, because he's well-paid in Bridges.
She's "bule-hunter".

Ternyata ada dan tidak ada dia, tidak mempengaruhi kehidupan kami bertiga. Malahan kami 
bertiga bisa hidup normal. Semua ada hikmahnya. KIta bisa belajar kehidupan dari banyak hal, dan melihat sesuatu dari sudut pandang lain. Banyak hal-hal di luar sana yang diluar dugaan. Yang lebih dari kehidupan normal saya 
sebelumnya di Jakarta.

That's why i call, Ubud is the best place to live and learn :)
If you are dare to see other world, let's "out of the box". You'll see the real world.

Komentar

Postingan Populer